Selasa, 06 November 2007

AHMADINEJAD, The Phenomenon

“Program nuklir kami ditentang oleh negara yang setiap bulannya membangun 10 reaktor nuklir. Kalau memang energi nuklir berbahaya, mengapa mereka masih memilikinya? Dan kalau memang energi nuklir membawa begitu banyak kebaikan, mengapa kami tidak boleh memilikinya?"

Teknologi nuklir adalah teknologi paling maju dalam bidang energi dewasa ini. Jika Iran dapat menguasainya, maka ekspor minyak dapat ditingkatkan sehingga dapat memperlancar masuknya devisa negara.

Sesungguhnya Barat tidak ingin negara-negara lain menguasai teknologi nuklir, karena mereka ingin agar saat krisis energi terjadi, negara-negara berkembang membeli energi teknologi tersebut dengan harga mahal.”

Ahmadinejad hanyalah seorang dosen bergelar Ph.D Transportasi Kota yang tinggal di gang buntu, pergi ke mana-mana dengan Peugeot tahun 1977 dengan menggunakan pakaian biasa dan sepatu bolong. Hal itu masih terus dilakukannya ketika dia diangkat menjadi gubernur Teheran, bahkan ia menjadikan kediaman gubernur Teheran sebagai museum, dan memilih tinggal di rumah jalan buntunya. Ia tidak segan membersihkan got jika selokan mampet, bahkan kerap menyapu jalan sebagai bukti solidaritas sosialnya.

Ketika pencalonan presiden pun, ia tidak bermodalkan apa-apa dibandingkan lawan politiknya yang menghabiskan miliaran untuk dana kampanye. Akan tetapi, kesederhanaannya lah yang membuat ia dipilih 61% rakyat Iran sebagai presiden.

Ketika ia dipilih menjadi presiden, dia membagi-bagikan saham gratis kepada rakyat Iran. Pinjaman modal bagi pasangan baru menikah dilipatduakan menjadi 2 kali lipat. Bahkan ia mendirikan program pengayaan uranium.

Diambil dari buku Ahmadinejad yang baru dibaca, CMIIW
sumber: http://www.aulia-ra.org/?page_id=13


Kontributor Berita:
Fitrin (Ayi) - Karawang